Lampu Merah dan Rem

Lagi ada sedikit ‘keributan’ dengan suami. Kalo orang Jawa istilahnya ‘udur’. Awalnya lagi becandaan, main teban-tebakan hinggga saya mengeluarkan sebuah tebakan.

 

Saya : “Mas, kenapa kalo di perempatan, traffict light nyala merah, kendaraan pada berhenti?”

Suami : “Lha ya mesti berhenti to. Lha wong aturannya gitu. Kalo gak berhenti itu nyalahi aturan. Kalo ada tabrakan gimana…”.

Saya : “Tapi nyatanya ada yang tetep jalan pas lampu nyala merah. Jawab yang lebih rasional gitu”. (Saya mulai mengarahkan ke jawaban yang saya maksud)

Suami : “Lha ya itu tadi.”

Saya : “Mau tahu jawabannya? Karena kendaraannya di-rem. Coba kalo gak di-rem, pasti kendaraan gak ada yang berhenti”.

Suami : “Lho tadi kan bilang kalo lampu merah berhenti. Dimana-mana kalo lampu merah, semua kendaraan emang berhenti”.

Saya : “Emang berhenti karena kendaraannya di-rem”.

Suami : “Ah, jawaban gak rasional…”. (merasa kalah)

Saya : “Justru sangat rasional. REM!”

 

Dan sampai sekarangpun suami masih gak menerima jawaban atas tebakan yang saya ajukan. Halah…

 http://www.smileycodes.info

16 thoughts on “Lampu Merah dan Rem

  1. hahaha kepriben dah.. rem aja bisa bikin perang domestik.. dibahas pula..
    suamimu serius ya orangnya? ato sekarang lagi ketawa dimana gitu setelah “ngeh”?

    • Sebenarnya saya tahu kalo suami merasa ‘kalah’ dalam tebakan itu. Cuma ribut kecil, dan mash tetep melanjutkan tebakan yang lain lho….

      Suami sangat serius, mbak. Iya tertawa juga sih, meski tetep gak mau menerima jawaban saya.

Silahkan tinggalkan jejak...

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s