Perempuan dan Sebuah Keputusan

Beberapa waktu lalu, sahabat saya curhat tentang kehidupan cintanya. Oh iya, sahabat saya seorang perempuan. Awalnya dari cerita itu, sepertinya dia bahagia bahwa telah menemukan calon pendamping hidupnya. Dan sayapun senang mendengar cerita itu. Apalagi ketika dia bilang bahwa akan segera menikah dan telah ditentukan bulan dan tahunnya. Kalo tanggalnya sih belum.  Namun kenyataannya , semua tak berjalan sesuai dengan rencana dan calonnya bisa dibilang mengundurkan diri. Alasannya… Kasih tahu gak ya? Wis ah, ndak usah dibahas ya. Bukan itu intinya….

Setelah sepeninggal lelaki itu, sahabat saya agak tertekan dengan keadaannya. Gak sopppaaan tuh lelaki. Lha gimana gak tertekan, udah rencana kok dibatalkan. Namun pada akhirnya dia menemukan lagi sesorang yang lain. Yang dia ceritakan sebagai calonnya juga. Alhamdulillah… Saya bersyukur, karena sebelumnya sahabat saya bilang kalo hal itu dia jadi benci lelaki.

Setelah berjalan beberapa waktu, pernah ada obrolan diantara mereka berdua. Yang katanya hendak menikah awal tahun depan, 2013. Sahabat saya telah dikenalkan dengan keluarganya. Wah, serius nih kayaknya. Namun entah kenapa ketika sahabat saya hendak mengenalkan kepada keluarganya, lelaki itu selalu saja menghindar. Pernah janji akan berkunjung ke rumah orangtua sahabat saya, dibatalkan. Pernah mau dikenalkan ke saya, eh membatalkan diri pula. Sepertinya keluarga sahabat saya pun merasa kok ‘digantung’ dan ibu sahabat saya sampai bilang, “Wonge kok sulaya wae to, nduk…?” (Dia kok ingkar janji terus, nak…?)

Sekilas cerita tentang kehidupan cinta sahabat saya. ..

Yup! Seorang perempuan emang ditakdirkan untuk menunggu dan menjawab pinangan. Namun kalo keadaan seperti itu. Akan sampai kapan terus menunggu? Beruntung kalo lelaki yang ditunggu emang benar-benar melamar, lha kalo enggak? Sebagai seorang perempuan, ketegasan emang perlu, neng… Apalagi dengan keadaan yang digantung seperti itu. Hendaknya perlu ditanyakan lagi tentang keseriusannya. Kalo emang gak serius, dan masih ingkar janji lagi ya mending sudahi saja kan. Kalo lelaki yang emang  serius masa sih ngegantung kekasihnya. Gak kasihan apa? Digantung! Antara iya dan enggak. Mending kalo langsung bilang “TIDAK” sekalian. Meski menyakitkan, tapi setidaknya sebagai perempuan itu tahu dan bisa membuka hati dengan yang lain. Ini masalah masa depan. Keputusan ada padamu, neng. Tegaslah…! Jadilah seorang perempuan yang tak bisa dipermainkan (hatinya). Jadi perempuan itu harus kuat. Kuat pendirian!

Sabahat, semoga Allah segera menemukan kau dengan pendamping hidupmu.

 

*dari curhatan seorang sahabat*

Silahkan tinggalkan jejak...

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s